Setelah menyaksikan debat kandidat calon bupati dan wakil
kabupaten bekasi, saya sebagai orang awam dapat menyimpulkan bahwa mereka tidak
memiliki visi dan misi yang matang, jikalaupun mereka punya, itu hanyalah mimpi
belaka, atau angan-angan, yang lebih parah adalah sisat busuk. Namun acara
tersebut memberikan inspirasi pada saya, dikaitkan dengan tulisan raffles dalam
“The History of Java”.
Dia menuliskan bagaimana pemerintahan Inggris memiliki
strategi dalam membangun Jawa. Dengan sumber daya yang ada, dan strategi yang
matang. Pendataan awal mengenai luas area sawah dan perkebunan, mendata lahan
yang belum digarap, mendata lahan yang subur berdasarkan tiga tingkatan,
mendata sumber daya manusia dalam suatu wilayah, upah, kekayaan masyarakat,
penghasilan masyarakat, kebutuhan dan pengeluaran masyarakat, sistem birokrasi
yang berjalan.
Setelah semua data terkumpul, disusunlah strategi yang saling
terkait. Analisis yang dilakukan adalah mencari penyebab kemiskinan, yaitu
pajak dan sistem bagi hasil lahan yang tidak adil sehingga masyarakat mejadi
tidak bergairah dalam bertani, akibatnya kekurangan SDM yang mengolah lahan
karena mereka berfikir hasil yang didapat akan menguntungkan penguasa.
Dengan cerita singkat diatas, mungkin aku juga perlu mencari
data-data tentang sumber daya yang ada di Depok. Sekitar tahun 2005 aku telah
melakukan beberapa survei rawa-rawa. Rawa yang ku datangi diantaranya rawa
kalong di gang nangka, rawa Gede di auri, Pengasinan di jalan Nusantara –
belakang terminal depok, rawa di daerah Kelapa Dua, dan setu Sawangan. Aku
berfikir jika kemungkinan rawa-rawa tersebut dijadikan tempat wisata – mungkin
namanya rawawisata seperti tempat belajar meneliti sekaligus sebagai tempat
budidaya ikan dengan tambak. Selain itu juga jika ada eceng gondoknya, dapat
dijadikan bahan bio gas, dimana tabung generatornya terbuat dari drum.
Namun survei ini tidak detail, dikarenakan peralatan untuk
dokumentasinya tidak ada. Memang selain hal yang saya sebutkan diatas, saya
juga berniat menyelidiki jika ada perusahaan yang membuang limbah sembarangan.
Jika saya bisa mendapatkan barang bukti, mungkin saya bisa mendirikan saka
Wanabakti atau Tarunabumi guna memanfaatkan data tersebut sebagai pencari dana.
Dan dana yang terkumpul akan dijadikan dana kegiatan yang mengolah limbah
tersebut.
Catatan saya jika saya meneruskan pendataan ini ialah
mendata sumber daya yang ada dalam setiap kecamatan. Data-data yang dikumpulkan
yaitu : banyaknya rawa, sungai kecil, sawah, perumahan, pabrik, kondisi petani,
inftastruktur, keadaan geografis, sekolah (SD, SMP, SMA) negeri dan swasta,
situs bersejarah, asal usul nama daerah, dll. Setiap target yang didata memilki
detail yang mungkin perlu dibuatkan form isian dan dokumentasi.
Hasil-hasil ini dikumpulkan dalam basis data dan juga di
posting ke blog agar tidak hilang atau rusak. Setiap kurun waktu tertentu di
update dan dijadikan bahan diskusi bagi anggota ambalan ataupun tamu ambalan.
Hasil diskusi akan dijadikan strategi dalam setiap kegiatan yang akan
dilakukan, atau sekedar dievaluasi di blog.
Untuk mengumpulkan data-data ini dapat memanfaatkan anggota
gerakan pramuka, dari tamu ambalan, anggota ambalanku, atau dari kawan-kawan
pramuka diwilayah tersebut. Memang strategi yang saya miliki adalah, tamu
ambalan diberikan materi, kemudian ditugaskan kesuatu wilayah untuk
mem-praktekan ilmu yang didapat. Jika mental dan fisik serta pengetahuan sudah
memadai, dia diwajibkan melakukan survei ini. Bagi anggota yang sudah melakukan
pendataan, akan diberikan tanda ikut serta/tiska, dan kenaikan tingkatan. Untuk
tingkat analisis dan perancangan diserahkan ke tingkat diatasnya, dan jika ia
sudah melakukan implementasi perancangan, maka dia mendapat sertifikat dan
kehormatan tirtajiwa atau “air sebagai sumber kehidupan”. Disini saya tidak membicarakan tingkatan pada umumnya pramuka
penegak dan pandega.
Implementasi hasil perancangan mungkin juga dapat dibagi
dalam beberapa kategori : kesejahteraan; inftastruktur; dan akhlak/moril. Semua
yang bersifat teknis menghasilkan income/pendapatan termasuk dalam kategori
kesejahteraan, untuk inftastruktur dapat berupa keindahan kawasan, dan
kemudahan dalam sarana-prasarana, sedangkan akhlak atau moril berupa kegotong
royongan; keramah tamahan pmasyarakat; intelektual; kesadaran; kemandirian;
dll.
Mungkin yang saya utarakan diatas hanya bersifat konsep,
namun setidaknya pepatah mengatakan bahwa mimpi adalah salah satu dalam
mencapai tujuan, dan orang yang tidak memiliki mimpi berarti tidak memiliki
cita-cita.
Blog ini saya maksudkan sebagai wadah laporan data-data yang didapat dilapangan. Untuk saat ini kami masih dalam tahap penyusunan program yang akan kami jalankan selama beberapa bulan kedepan.
7-Mar-12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar