Kamis, 08 Maret 2012

PROFIL

Setelah menyaksikan debat kandidat calon bupati dan wakil kabupaten bekasi, saya sebagai orang awam dapat menyimpulkan bahwa mereka tidak memiliki visi dan misi yang matang, jikalaupun mereka punya, itu hanyalah mimpi belaka, atau angan-angan, yang lebih parah adalah sisat busuk. Namun acara tersebut memberikan inspirasi pada saya, dikaitkan dengan tulisan raffles dalam “The History of Java”. 

Dia menuliskan bagaimana pemerintahan Inggris memiliki strategi dalam membangun Jawa. Dengan sumber daya yang ada, dan strategi yang matang. Pendataan awal mengenai luas area sawah dan perkebunan, mendata lahan yang belum digarap, mendata lahan yang subur berdasarkan tiga tingkatan, mendata sumber daya manusia dalam suatu wilayah, upah, kekayaan masyarakat, penghasilan masyarakat, kebutuhan dan pengeluaran masyarakat, sistem birokrasi yang berjalan. 

Setelah semua data terkumpul, disusunlah strategi yang saling terkait. Analisis yang dilakukan adalah mencari penyebab kemiskinan, yaitu pajak dan sistem bagi hasil lahan yang tidak adil sehingga masyarakat mejadi tidak bergairah dalam bertani, akibatnya kekurangan SDM yang mengolah lahan karena mereka berfikir hasil yang didapat akan menguntungkan penguasa. 

Dengan cerita singkat diatas, mungkin aku juga perlu mencari data-data tentang sumber daya yang ada di Depok. Sekitar tahun 2005 aku telah melakukan beberapa survei rawa-rawa. Rawa yang ku datangi diantaranya rawa kalong di gang nangka, rawa Gede di auri, Pengasinan di jalan Nusantara – belakang terminal depok, rawa di daerah Kelapa Dua, dan setu Sawangan. Aku berfikir jika kemungkinan rawa-rawa tersebut dijadikan tempat wisata – mungkin namanya rawawisata seperti tempat belajar meneliti sekaligus sebagai tempat budidaya ikan dengan tambak. Selain itu juga jika ada eceng gondoknya, dapat dijadikan bahan bio gas, dimana tabung generatornya terbuat dari drum.

Namun survei ini tidak detail, dikarenakan peralatan untuk dokumentasinya tidak ada. Memang selain hal yang saya sebutkan diatas, saya juga berniat menyelidiki jika ada perusahaan yang membuang limbah sembarangan. Jika saya bisa mendapatkan barang bukti, mungkin saya bisa mendirikan saka Wanabakti atau Tarunabumi guna memanfaatkan data tersebut sebagai pencari dana. Dan dana yang terkumpul akan dijadikan dana kegiatan yang mengolah limbah tersebut.

Catatan saya jika saya meneruskan pendataan ini ialah mendata sumber daya yang ada dalam setiap kecamatan. Data-data yang dikumpulkan yaitu : banyaknya rawa, sungai kecil, sawah, perumahan, pabrik, kondisi petani, inftastruktur, keadaan geografis, sekolah (SD, SMP, SMA) negeri dan swasta, situs bersejarah, asal usul nama daerah, dll. Setiap target yang didata memilki detail yang mungkin perlu dibuatkan form isian dan dokumentasi.

Hasil-hasil ini dikumpulkan dalam basis data dan juga di posting ke blog agar tidak hilang atau rusak. Setiap kurun waktu tertentu di update dan dijadikan bahan diskusi bagi anggota ambalan ataupun tamu ambalan. Hasil diskusi akan dijadikan strategi dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan, atau sekedar dievaluasi di blog.

Untuk mengumpulkan data-data ini dapat memanfaatkan anggota gerakan pramuka, dari tamu ambalan, anggota ambalanku, atau dari kawan-kawan pramuka diwilayah tersebut. Memang strategi yang saya miliki adalah, tamu ambalan diberikan materi, kemudian ditugaskan kesuatu wilayah untuk mem-praktekan ilmu yang didapat. Jika mental dan fisik serta pengetahuan sudah memadai, dia diwajibkan melakukan survei ini. Bagi anggota yang sudah melakukan pendataan, akan diberikan tanda ikut serta/tiska, dan kenaikan tingkatan. Untuk tingkat analisis dan perancangan diserahkan ke tingkat diatasnya, dan jika ia sudah melakukan implementasi perancangan, maka dia mendapat sertifikat dan kehormatan tirtajiwa atau “air  sebagai sumber kehidupan”. Disini saya tidak membicarakan tingkatan pada umumnya pramuka penegak dan pandega.
Implementasi hasil perancangan mungkin juga dapat dibagi dalam beberapa kategori : kesejahteraan; inftastruktur; dan akhlak/moril. Semua yang bersifat teknis menghasilkan income/pendapatan termasuk dalam kategori kesejahteraan, untuk inftastruktur dapat berupa keindahan kawasan, dan kemudahan dalam sarana-prasarana, sedangkan akhlak atau moril berupa kegotong royongan; keramah tamahan pmasyarakat; intelektual; kesadaran; kemandirian; dll.

Mungkin yang saya utarakan diatas hanya bersifat konsep, namun setidaknya pepatah mengatakan bahwa mimpi adalah salah satu dalam mencapai tujuan, dan orang yang tidak memiliki mimpi berarti tidak memiliki cita-cita.

Blog ini saya maksudkan sebagai wadah laporan data-data yang didapat dilapangan. Untuk saat ini kami masih dalam tahap penyusunan program yang akan kami jalankan selama beberapa bulan kedepan.
7-Mar-12